The Life of Two Lovebirds (From The Wedding Cancellation to the Global Guests)


Perkenalan dan Pertukaran Pelajar ✈


Aku kenal Jeff, suamiku, dari seorang kawan. Pertama kali ke Taiwan, aku ikut student exchange program dari kampusku. Saat itu, aku masih dalam proses menyelesaikan skripsiku. Sudah sejak dulu aku ingin sekali ikut program pertukaran pelajar atau aktivitas sosial kepemudaan seperti itu. Akhirnya, aku memutuskan untuk ikut proyek sosial dari AIESEC, sebuah organisasi kepemimpinan internasional yang menawarkan pemuda untuk terlibat dalam berbagai program terkait isu sosial, budaya, pendidikan, dan ekonomi.


Di Indonesia sendiri, hampir di setiap kampus negeri ada organisasi ini. Aku berangkat bersama dengan seorang kawan seminggu lebih awal dari program dimulai agar kami bisa jalan-jalan sebentar sebelum kami menghabiskan waktu bersama panitia di program tersebut. Bertemu di Hsinchu, Taiwan pada awal Januari 2014, kita hanya bertemu sekali karena aku harus segera menyiapkan diri untuk proyek sosial yang kujalani minggu depannya. Singkat cerita, kami berkomunikasi secara intens lewat chat hingga memutuskan untuk mencoba mulai menjalin hubungan jarak jauh antara Indonesia-Taiwan.


Awal dan Akhir 💞


Kalau ditanya kenapa aku mau menjalin hubungan dengan suami saat ini, banyak banget alesannya. Salah satunya adalah kejujuran dan konsistensi yang dia tunjukkan selama ini. Jeff sudah pernah datang ke Solo, Indonesia juga sebelum dia mengenalku. Jadi, aku bukan asal pilih pacar ya! Sampai akhirnya Jeff datang untuk mengunjungiku pertama kali di Indonesia bulan Oktober 2014 lalu. Dia datang untuk menghadiri wisuda dan merayakannya bersama keluargaku. Waktu itu rasanya deg-degan sekali karena ayahku yang cukup kolot dengan orang baru (baca: orang yang berpacaran denganku), hahaha. Untungnya, mamaku cukup welcome menyambut Jeff untuk tinggal di rumah selama dia berlibur di Indonesia waktu itu.


Setelah satu tahun kami berpacaran, kami berencana untuk menikah. Orangtua Jeff datang untuk pertama kalinya waktu itu. Berulang kali aku ingatkan suami untuk tidak memintaku untuk menikah tahun 2015 lalu karena orangtua kita belum saling kenal dan buatku pribadi, satu tahun menjalani hubungan jarak jauh dengan waktu bertemu setahun sekali cukup membuatku khawatir. Ya dari restu orangtua sampai kesiapan mental. Untuk itu, tawaran untuk menikah sempat aku tolak menjadi pertunangan yang dilaksanakan tahun berikutnya.


Pertunangan dan Pernikahan 💍


3 Juli 2016 menjadi awal ‘pengesahan’ kami sebagai pasangan. Selama dua tahun pacaran dan tunangan, Jeff memang bekerja di Taiwan dan aku di Indonesia. Dia pernah satu kali mengunjungi kantor tempatku bekerja dan berkeliling Jakarta. Sungguh pengalaman yang bikin senyum-senyum sendiri kalau diingat. Setelah bertunangan, kami berencana untuk menikah tahun depannya, tahun 2017. Tapi, waktu itu pihak keluarga, yaitu ayahku, masih enggan aku langsung menikah. Beliau ingin aku menepati ‘janji’ yang sudah kuutarakan padanya saat aku wisuda sarjana lalu, yaitu untuk melanjutkan kuliah ke jenjang pascasarjana. Padahal sebenarnya kami sudah booking gedung, catering, make-up artist hingga gaun pernikahannya. Jadilah kami cancel semuanya waktu itu…


Setelah satu setengah tahun sekolah di Taiwan, akhirnya aku dinyatakan lulus. Oya, aku bersyukur sekali bisa melanjutkan sekolah disana karena aku bisa jadi lebih sering bertemu Jeff, hihihi. Kami bertemu tiap satu bulan sekali. Selama aku sekolah, ayah yang justru semangat menyiapkan pernikahan kami. Mulai dari jadwal sewa gedung yang perlu diganti hingga menu makanan cateringnya. Hihi, jadi geli sendiri kalau ingat persiapan kami menikah waktu itu.


Selama ini banyak yang mengira Jeff adalah orang Indonesia dengan keturunan Tionghoa. Tapi, sebenarnya Jeff memang ada keturunan Tionghoa-Indonesia karena neneknya adalah orang Indonesia keturunan Tionghoa yang kembali ke China sebelum akhirnya imigrasi ke Mauritius. Jadi, ada beberapa keluarga besar ayah suami yang tinggal di Indonesia. Aneh tapi nyata kan ya? Dari sekian banyak orang di bumi ini, ketemunya dengan orang keturunan Indonesia juga, hehehe. Suatu rencana Sang Pencipta alam semesta yang penuh berkat.


Jeff sempat berkuliah selama satu tahun di Tainan, kota kecil di bagian selatan Taiwan dan kampusku ada di kota Taichung, kota terbesar ketiga di Taiwan setelah Taipei dan Kaohsiung. Taichung ada di bagian tengah Taiwan dengan waktu tempuh kurang lebih dua jam dengan bus ke kota Tainan. Selama menjalin hubungan jarak jauh di Taiwan rasanya seneng banget karena akhirnya kami bisa bertemu lebih sering. Tidak hanya lewat telepon seluler atau laptop. Nah, bahan obrolan kami selain tentang makanan dan traveling, adalah:


1. Visi – Misi💭📝

Tahukah pasangan dan kita pribadi tentang arti pernikahan? Langkah apa saja yang harus disiapkan dari pernikahan antarbangsa? Secara hukum, seberapa siap dan tahu keribetan dalam menyiapkan segala dokumennya? Mau berapa anak nanti? Ingin langsung, menunda, atau sejadinya saja program kehamilannya? Percaya nggak percaya, sudah banyak persoalan rumah tangga yang timbul dari kurun waktu lima tahun pernikahan dan terancam bercerai karena KURANGNYA PEMBAHASAN MENGENAI TOPIK yang MENYANGKUT PERNIKAHAN. Alasannya beragam. Bahkan ada seorang teman lama yang waktu itu aku tanyakan ingin menetap dimana setelah menikah dia pun tidak tahu. Hohoho, PERNIKAHAN TIDAK SESEPELE ITU, FERGUSO! Kalau masih sungkan dan belum bisa jawab dengan mantap beberapa pertanyaan diatas BERSAMA PASANGAN, mending tunda dulu niatan untuk menikah itu ya.


Sejatinya pernikahan adalah untuk orang yang benar-benar siap secara fisik, emosional, dan finansial adalah BENAR ADANYA. Jujur, dulu samapi detik-detik menjelang hari H pun aku masih suka egois dalam menentukan kewarganegaraan anak nantinya. Padahal hamil aja belum kok sudah bahas kewarganegaraan anak, gitu kan pasti mikirnya? Eits, bahasan seperti ini SENSITIF TAPI PENTING buat dibahas dengan pasangan antarbangsa tentunya. Sampai akhirnya setelah bertemu dengan konselor pernikahan, aku jadi tahu arti komunikasi yang sehat dalam suatu pernikahan. Komunikasi yang konstruktif dengan berlandaskan kompromi dan toleransi.


2. Kebiasaan – Karakter ✋📛

Sepertinya banyak dari kita tahu tentang hal ini. Bisakah kamu bayangkan dari yang tidur tenang tiba-tiba ada suara dengkuran di sebelahmu? Bisakah kamu bayangkan dari polamu yang suka keteraturan dan kebersihan tiba-tiba ada pribadi yang berbeda suka melempar pakaian kotor sembarangan dan tidak suka mengepel? Terlihat sepele ya, tapi JANGAN SALAH. Kebiasaan tersebut kalau TERUS DILANJUTKAN DAN DITOLERANSI TANPA KOMUNIKASI BISA JADI ‘BOM ATOM’ rumah tangga kalian lho.


Kok bisa? Aku aja lah yang lebay. Itu kan hal biasa.” Ya, kalau kita terus toleransi kebiasaan buruk yang buat kita nggak nyaman tanpa disertai dengan komunikasi yang jelas, tentu akhirnya bisa memicu konflik rumah tangga. KEBIASAAN MEMBENTUK KARAKTER dan KARAKTER MEMBENTUK KEPRIBADIAN. Jadi, pastikan kita tahu kebiasaan baik-buruknya pasangan dan KOMUNIKASIKAN SEJAUH MANA KALIAN BISA SALING TOLERANSI dengan pasangan ya.


3. Terima – Bersama 🙌💏

Tapi kan aku sudah janji untuk terima dia apa adanya? Kan aku memang dari awal tau karakternya dia begitu? Aku harus gimana? Wajar kok dia begitu.” Baiklah Fernanda, sesuatu yang disebut CINTA, memang betul artinya MENERIMA. Pertanyaannya adalah apa iya kamu dan pasangan BISA dan MAU SALING MENERIMA satu sama lain kalau lama-kelamaan ada berbagai kebiasaan dan karakter yang bikin nggak nyaman?


Kalau memang kalian mencintain satu sama lain, mulai TERIMA pasangan dengan paket komplit BAIK-BURUKnya dan KOMUNIKASIKAN secara terbuka dan efektif untuk menjaga keharmonisan rumah tangga kalian. Artinya, ada PROSES PEMBELAJARAN BERSAMA yang BERIMBANG. Tidak bisa menuntut satu pihak saja mengikuti ‘aturan main’ kita.


Menjalani pernikahan selama kurang lebih setahun ini, saya hanya ingin membantu teman-teman semua untuk berpikir jauh ke depan bahwa pernikahan tidak hanya bagian enaknya saja. Percayalah, lika-liku kehidupan rumah tangga TIDAK SEENAK DAN SEBERAT YANG DIBAYANGKAN. Kalimat istri harus bisa memasak dan suami saja yang bekerja SUNGGUH TIDAK TEPAT. Pernikahan adalah hubungan yang dinamis. Butuh kesadaran dan niat yang besar untuk menciptakan melodi yang seirama. Bukankah PERNIKAHAN ITU SALING MELENGKAPI?



Hello! Thank you for visiting www.MOMENTIZING.com. We hope you have an enjoyable time when you read it and hope you have a great day. You can leave a comment below and share this page to your loved ones. Happy reading, happy you!